Jumat, 24 April 2015

Antara Jurnalis dan Perencana

“Prinsip utama dalam ilmu planning itu sebenarnya hanya ada dua. Tidak boleh mengambil manfaat dari orang lain tanpa memberikan manfaat kepada yang lain, dan (apalagi) tidak boleh mengambil manfaat dengan merugikan orang lain,”

- Tubagus Furqon, dosen Teori Perencanaan

Di masa-masa yang banyak berkontemplasi mengenai pekerjaan di masa mendatang seperti sekarang, banyak hal yang dipikirkan ataupun tidak sengaja saya pikirkan terkait pekerjaan di masa mendatang (ya masa mau nganggur juga sih susah susah kuliah di ITB). Akhir-akhir ini saya membaca buku karangan Jakob Utama berjudul “Pers Indonesia”, dan tidak bisa berhenti berpikir kalau menjadi planner dan jurnalis bisa dibilang memiliki banyak kemiripan dalam beberapa hal. Poin utamanya bisa berangkat dari kesamaan dua hal tersebut. Mereka semua adalah profesi, bukan pekerjaan.

“Semua profesi itu adalah pekerjaan. Tapi belum tentu sebuah pekerjaan adalah profesi” saya masih ingat kalimat tersebut merupakan kalimat pembuka ketika saya pertama kali berkenalan dengan Kak Andis pada waktu pembukaan training magang pertama kali di Kantor Berita. Kak Andis saat itu menjelaskan, kalau misalnya profesi itu berbeda dengan pekerjaan dikarenakan tingkat ‘kedalamannya’ terhadap ilmu yang dia kuasai. Misal, profesi dokter memerlukan pelatihan dalam waktu lama sebelum dia bisa membuka praktek sendiri atau misalnya dalam hal ini adalah wartawan yang kinerjanya juga dinilai dari pengalaman-pengalaman dan kompetensi yang sudah distandarkan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sama juga halnya dengan planner yang mempunyai strata perencana tingkat madya dan seterusnya, wartawan juga memiliki semacam ‘tingkatannya’ sendiri dan harus melalui berbagai pelatihan untuk sampai pada posisi tertentu. Beda halnya dengan beberapa pekerjaan seperti wirausaha misalnya, mereka bisa saja otodidak dan pelatihan yang mereka dapatkan dan pekerjaanya tidak terikat secara hukum terhadap lembaga tertentu.

“Tapi yang paling membedakan profesi dengan pekerjaan itu ada di satu hal yang namanya kode etik” lanjutnya. Dari sini, pasti kita sudah tahu kalau yang namanya profesi pasti diikuti dengan kode etik. Kode etik, sepanjang yang saya dengar dari kuliah TP dan dari pengetahuan jurnalistik saya yang cetek ini, bersumber dari hati nurani. Kenapa sebuah profesi memerlukan kode etik ? kalau misalnya Jakob Utama bilang “Guna menjamin tegaknya kebebasan pers, serta terpenuhinya hak-hak masyarakat,”

Kalimat terakhir ini yang mungkin di setiap pertemuan kuliah Teori Perencanaan selalu disinggung, hak-hak masyakarat yang mungkin bisa dikaitkan dengan yang namanya public interest. Saya pernah iseng nyari apa itu “yellow journalism” dan mendapatkan bahwa sebenarnya bagaimana masyarakat itu merupakan cerminan media pers nya saat itu juga. Intinya, hasil pekerjaan dari wartawan akan sangat berpengaruh terhadap kondisi realitas masyarakat saat itu. Ada yang bilang kalau kode etik itu dibuat sebagai ‘perjanjian’ antara profesi bersangkutan dengan masyarakat. Hasil pekerjaan dari sebuah profesi, bukan pekerjaan, memiliki dampak yang sangat besar terhadap masyarakat sehingga dibuatlah kode etik, supaya wartawan, dokter, planner, dan berbagai profesi lainnya tidak melenceng dan mengedepankan kepentingan umum dibanding kepentingan partisan. Sesuatu yang mengedepankan kepentingan publik, bisa dibilang merupakan karakter ilmu-ilmu yang sifatnya public domain.

Apabila pers merupakan refleksi dari kenyataan masyarakat. Pastinya ada hal-hal yang sulit dilakukan terkait  tanggung jawab terhadap kode etik. Misalnya menjelaskan duduk perkara suatu kejadian apa adanya, tanpa (bahkan) opini pribadi dan boro-boro kepentingan pihak lain dalam proses penulisan. Tidak semua hal yang kita ketahui dapat disajikan kepada publik,  yang dalam prosesnya terdapat penilaian-penilaian tertentu yang menuntut kecermatan, kehati-hatian serta pertimbangan yang matang. “Di sini letaknya pemahaman mengenai kode etik dari pribadi seorang wartawan bari dikembalikan pada sumber daya manusianya termasuk masalah editorial management yang baik,” masih kata Jakob Utama.


Kalau misalnya saya tahu kode etik jurnalistik di awal sebelum saya belajar jurnalistik, kebalikan dengan kuliah saya yang mengajarkan kode etik perencana di akhir kuliah. Yah kalo belajarnya di akhir sih kaya jadi lebih kebayang kongkrit apa urgensi dan contoh nyata kesulitan mengaplikasikan kode etik dalam menjalankan profesi. Dua-duanya punya tantangan tersendiri mungkin yah, tapi yang jelas seseorang yang terjun ke sebuah profesi itu seharusnya mereka punya nilai atau value sendiri, value itu yang mereka perjuangkan ketika mereka dihadapkan oleh permasalahan yang menuntut profesionalitas mereka. Etika, adalah “has to do with duty, duty of self and duty to others” (Ethics and the Press, John C. Merrill DAN Ralph D. Barney, 1975 dari Missouri School od Journalism) dan bagaimana kita menyikapinya tergantung dari value yang kita pegang dan kita mau untuk perjuangkan. Karena standar yang (misalnya) wartawan terapkan dalam pekerjaannya tidak hanya menyangkut orang lain, tetapi juga dirinya. Apabila hukum datangnya dari luar, maka etika datangnya dari dalam.  

Nilai memang akan sangat tergantung dari pribadi masing-masing, tidak ada patokan yang benar dan salah. Tapi justru hal-hal seperti ini yang menjadi ciri dari ilmu-ilmu public domain seperti planning, dan standar kompetensi yang diterapkan akan sangat tergantung dari bagaimana seorang individu memahami etika dan nilai yang mereka pegang, Memperjuangkannya mungkin bisa jadi hal yang lebih berat. Tetapi bukannya itu perannya ? Kalau Pramoedya Ananta Toer bilang dalam bukunya “Orang itu harus sudah adil sejak dalam pikiran,” hal ini tidak segampang itu apabila menghadapi kondisi sebenarnya. Peranan pers memang berat. Di satu pihak demokrasi di lain pihak kritis dan transisi. Di  sisi lainnya lagi juga mengawasi kekuasaan, sama sama kesulitan yang dihadapi oleh pihak planner. Mungkin tidak ada salahnya kalau sebelum terjun ke dunia kerja yang sebenarnya, lebih dulu kita menyadari pernyatan Benjamin Franklin dalam Konvensi Konstitusi Amerika Serikat :

“Sir, there are two passions which  have a powerful influence on the affairs of men. These are ambition and avarice, the love of power and the love of money”






Rabu, 25 Maret 2015

5 Ultimate-Important Things for Applying to Graduate School

Hai hai dan hai !

Masih menyambung dengan post saya sebelumnya, tulisan ini sebenarnya lanjutan dari kisah berdarah darah saya mendaftar di salah satu universitas, iyaa salah satu resolusi 2015 saya. Alhamdulillah sudah tercapai bertepatan dengan tanggal 19 Maret kemarin. Deadline pendaftarannya sebenarnya 20 Maret, mepet banget kan ? haha tapi memang banyak banget hal yang diurus saat itu bahkan sampai hari saya submit application masih ada beberapa kata di cv europass saya yang saya edit terus terusaan , bawaan kerjaan di kantor berita jadi suka paranoid gitu kalo misalnya ada yang salah atau spasinya kurang atau kesalahan kesalahan lainnya.



Ada beberapa kejadian yang bikin perut saya mules dan galau sampai ke ubun-ubun nyiapin ini semua. Sampai hari senin, 16 Maret baru satu orang yang ngirim recommendation letter buat saya yaitu bos saya di USDI (enak sih kalo kerja sama orang humas, fast response soalnya). Hari Selasa, saya ada permasalahan sama tabungan saya huhu, saya gabisa make tabungan rencana saya karena sertifikatnya (yang udah lama banget kira kira hampir setahun yang lalu) ketika saya cek di map isi buku-buku tabungan saya ternyata ga ada. Hari rabu akhirnya semua dosen yang saya mintai tolong untuk surat rekomendasi mengirimkan surat rekomendasinya tapi ternyata surat yang dikirimkan ibu saya untuk keterangan finansial masih berbahasa indonesia, hiks... jadilah saya ke penerjemah tersumpah untuk menerjemahkan surat tersebut. Rabu itu juga saya gajadi melakukan pembayaran karena informasi bank tujuan penerima ada yang kurang, yaitu kurang beneficiary name-nya. Berhubung transfer internasional diharuskan dilakukan jam 10 dan saya tahu kalau saya email saat itu juga pun gak akan langsung dibales karena perbedaan waktunya kan enam jam jadi kira kira jam tiga pagi di sana. Emang yang mau bales email saya jin apa? yaudah deh dengan berat hati saya keluar dari bank. Yah.. saya cuma gamau mepet deadline aja ngumpulinnya dan saya juga takut ketar ketir kalau bayarnya mepet kan uangnya juga sampenya seminggu kemudian, saya harus email tim admissionnya lagi buat konfirm pembayaran huhu... gamungkin gaboleh mundur lagi.  

Hari kamis, setelah survey sana sini biaya pengiriman paling murah saya melakukan pembayaran via transfer internasional di salah satu bank yang memiliki cabang di ITB (deket ATM Center pokoknya wkwk). Sesudah melakukan pembayaran, saya email tim admissionnya. Yah .. saya juga ga berharap langsung dibales sih, rabunya kemarin aja saya email jam 9 dibales sekitar jam 2 siang (Tapi yah menurut saya itu udah fast response banget. Kalau dibales jam 2 siang kan berarti sekitar jam 8 mereka ngebalesnya,itu kan lumayan pagi dan memang jam awal masuk kantor. Salut !). Saya nunggu sambil nugas dan benerin cv tapi sampai jam 2 belum dibales... saya akhirnya pulang dulu buat ambil laptop karena sorenya mau rapat redaksi dan sampai jam 5 sore belum dibales ! Saya udah mau nangis mikir yang enggak-enggak.. Tapi yaudah saya rapat redaksi dulu aja sambil nunggu email, daaan.... syukurlah nyuri nyuri buka email pas rapat ternyata ada email notifikasi dari tim admissionnya kalo info pembayarannya sudah diterima oleh pihak universitas. Alhamdulilllaaah .. jadilah saya pulang dari rapat redaksi sekitar jam setengah 9 langsung pulang ke kosan dan melengkapi pendaftaraan. Ngutak atik CV dan motivation letter nya .. dan sekitar jam 23.58 saya baru submit. done !


Now the waiting begin .. saya submit dan langsung mendapatkan email notifikasi dari pihak admission. Selanjutnya sih seharusnya saya menunggu email yang menyatakan bahwa aplikasi saya admissible atau non-admissible, dan email berikutnya yang berisi final announcement. Sedihnya, saya baru menemukan thread semacem kaskus gitu buat anak anak yang apply universitas inii buat tahun 2015. Hal baru yang saya temukan adalah sudah ada beberapa orang yang diterima di masing masing program ! jadi tuh ternyata sistem penerimaannya gini, pendaftaran dibuka dari rentang Oktober sampai deadline Maret. Kalau kita apply Desember, kita bakal dikasi pengumuman lulus atau gaknya kita kira kira sebulan dari tanggal kita submit, begitu kira-kira. Dan emang ga ada yang tahu kuotanya berapa per masing masing program ataupun kriteria kandidat sukses yang bisa lolos seleksi mahasiswa internasional ini, karena emang pihak universitas ini ga pernah memberitahukannya. 
Okay, itu bener bener bikin saya down :"c .. ditambah ngelihat profil-profil orang orang di chatroom ituu ada yang pengalaman kerjanya keren banget dan kerjanya di organisasi internasional lah, lulusan terbaiklah, dan banyaak banget lainnya yang bikin saya keder. Yah tapi percuma saya mengeluh sekarang, saya cuma bisa berdoa yang terbaik sekarang untuk apapun hasil yang diberikan oleh Tuhan nanti. Daan ... sesuai dengan judul postingan ini saya mau ngasih beberapa hal penting atau tips buat mendaftar program internasional di universitas buat master dari pengalaman saya ini (ceileuh..) :

1. Check and recheck dokumen kita 
ya misal, saya baru tahu dokumen finansial yang dikirim ibu saya di H-4 deadline submit application masih bahasa indonesia hiks sedih. CV atau resume juga, misalnya untuk Prancis sendiri, setahu saya sebaiknya jangan melebihi 2 halaman dan usahakan buat sesimpel mungkin. jangan bertele-tele . Orang sana gasuka baca CV yang bertele-tele dan formatnya nggak terstruktur. Saya pakai format CV europass yang  udah banyak contoh formatnya di internet dan bahkan bisa bikin langsung secara online dalam beberapa bahasa negara-negara di benua eropa

2. Motivation letter plays a super ultimate significant role 
iya, iya, harus banget put your best effort di motivation letter kamu. Yang bikin saya kaget adalah setelah saya cek lagi ada semacam instruksi biar motivation letter (yang ditulis secara langsung di form pengisian) biar menjawab beberapa pertanyaan tertentu. Untungnya motivation letter saya waktu saya check udah menjawab yang diinstruksikan. Tapi ya saya tahu lebih baik saya pas ngecek itu ga pas waktu pengumpulan juga. 
Dari forum yang saya sebutkan di atas, saya lihat ada 2-3 peserta yang ngerjain motivation letter selama dua bulan (lama banget ga siiih whaha udah jadi dua setengah bab buat TA itu mah). dan dari salah satu applicant yang sudah berhasil diterima di salah satu program master, dia bagi bagi tipsnya dia juga buat motivation letter. Pada intinya, motivation letter kita itu harus jelas dan rinci. Orang begitu baca motivation letter kita, gak bakal tanya lagi "kamu mau ngapain disini ? apa alasanmu buat ngelakuin hal ini ?" dan seterusnya. Bahkan, dia nyebutin nama organisasi yang dia harap bakal jadi tempat kerjanya dia setelah lulus dan bahkan jabatannya apa coba ! ckck sangat visioner yah orangnya. Intinya, jangan meremehkan motivation letter, pihak universitas pastinya gamau salah pilih mahasiswanya dan motivation letter itu salah satu alat dimana mereka bisa mengenal kita lebih jauh secara personal. 

3. Pilih referee yang benar benar tepat dan mengenal kita 
referee yang dimaksud disini adalah orang yang ngasih kita recommendation letter. Ternyata, gabisa main main pilih referee. Untung pihak universitasnya ngasih kelonggaraan buat kriteria referee yang kita pilih. Di beberapa universitas, kayaknya ada syarat buat referee kita misal harus professor gitu. Okelah, semua orang pasti tahu kalau jabatan (baik fungsional maupun akademis) dari orang yang ngasih kita recommendation letter itu memang nyata dipertimbangkan. Hebat banget mungkin ya orang yang dapet recommendation letter dari dekan atau professor, atau mungkin rektor wkwk. Tapi yang saya dapet adalah, mending pilih referee yang memang sudah kenal dekat dengan kita, syukur syukur kalau jabatan akademisnya sesuai dengan persyaratan. Karena setahu saya di form referee yang dosen saya tunjukkan, memang ada pertanyaan sudah berapa lama dan seberapa baik mereka mengenal kita. Karena pastinya buat ngasih informasi rekomendasi yang reliable dan berkualitas, referee kita paling ga harus kenal deket sama kita dan tahu betul bagaimana kinerja kita

4. Do your best at your language test 
Ya udah seharusnya dong ya kita provide bukti kemampuan kita dalam berbahasa inggris. yang saya maksud adalah set a high goal for our score. Ga ambil IELTS dan asal lulus juga, sayang banget udah bayar 2,5 juta kalo hasilnya nggak maksimal juga kan. Ambil IELTS tuh ga bisa main main ternyata, butuh komitmen juga belajarnya. Belajar sungguh sungguh aja belum tentu hasilnya bagus. Saya sebenernya belajar dari pengalaman ambil DELF dengan nyesuaiin latihan-latihan persiapan pakai simulasi IELTS. Kalo bisa ngulang yaaaa, saya pengen ambil tes DELF lagi deh.. pokoknya jangan memandang syarat ini tuh cuma sebatas perlengkapan semata. Ada salah satu applicants yang diemail kalo dokumennya non-admissible. Soalnya emang nilai TOEFL nya dibawah persyaratan (kalau master biasanya overall band score 6,5 dengan ga ada subscore dibawah 6). Ga tahu sih, saya juga baru tahu ini universitas ternyata tanpa tedeng aling aling nyatain non-admissible, soalnya saya pernah diceritain kakak kelas saya dia berhasil apply walaupun IELTS atau TOEFLnya di bawah ketentuan standar, syaratnya dia harus ambil kuliah bahasa asing tambahan setibanya di negara tujuan nanti. Jadii, bersungguh-sungguh lah dalam mengerjakan tes-tes bahasa yang dijadikan syarat guys ! Sekalipun dapat bandscore yang bagus sekalipun, juga bakal menghadapi tantangan yang sebenernya di negeri orang kan ? 

5. Jangan putus asa, jangan menyerah, terus merangkak walau berdarah-darah !
Ini yang paling penting, diatas segalanya kayaknya syarat utama lainnya adalah nggak pernah putus asa dan nggak gampang menyerah. Orang yang ga gampang meyerah dan putus asa pasti selalu ngusahain solusi dan berpikir cepat buat ngatasin masalah, bukan lari atau malah batalin niatnya. Kita gak akan tahu sebelum nyoba kan ? (wkwk saya tahu banget rasanya down dan ngerasa apa yang kita perjuangin out of my league kok). Mengutip Surah di Al Quran yang paling favorit buat saya, yaitu An-Najm ayat 39-41 

Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,
Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), 
Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.



Ragu-ragu sama perasaan down pasti pernah ada, tapi diniatin aja ini buat cari pengalaman dan selalu berdoa sama yang di atas untuk diberikan yang terbaik dan menerima hasilnya. Karena Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik yang bahkan tidak kita ketahui :") 

Mungkin sekian post kali inii, semoga di lain waktu dapat saya tambahkan. Semangat untuk kalian yang sedang mengejar cita-cita kaliaan. jangan menyerah ! :)

Jumat, 20 Maret 2015

A Letter from God

A letter from God to every future husband :

"The woman you have by your side , with the wedding dress, it’s mine. I have created her. I’ve always loved her ; even before you and even more than you I have big plans for her. You’ll take her from Me and become responsible.

When you met her you found her beautiful and you felt in love. Its me that shaped her beauty, it’s me to put inside her tenderness and love, is my wisdom that formed her sensitivity and her intelligence and all the fine qualities that you are finding in her.”
You’ll have to commit yourself to respond to her needs. As her man you will be the one after Me she is devoted and she entrust to feel secure and safe. You will realize she needs many things: she need an home, dresses, serenity, joy, mental balance, affection and tenderness, pleasure and fun, human presence and dialogue, family relationships and many other things.

But you have to realize that above all she needs me, and eveything that helps and encourages this encounter with Me: peace of heart, purity of spirit, prayer, the Book, forgiveness, hope and trust in Me.

Let’s make a pact between us: we love her both. I love her since always. You’ve started to love her since some years. I am the One who put in your heart the love for her. I entrusted her heart to someone who could take care of her. And that one is you.
It was the most beautiful way to say: “Here we are, I’ll trust you “, and so you could enjoy her beauty and her qualities. But be careful: when you say “I promise to be faithful to you, to love you and respect you for the life”, you will answer me. We will be in two to love her.

But we have to clear this: It is not possible you love her in a way and I love her in another. You need to have a love for her like Mine, and you should wish for her the same things that I desire. You can not think of anything more beautiful and joyful for her.
If you love her seriously I’ll figure out slowly which is the way I love her and how you should love her.

I realize that I’m asking a lot. You thought this woman was all and only yours, and now you have the impression to answer me. But no. I’m not your rival in love. On the contrary, am the one who helps you to love her godly.

I will never leave you alone in this task. I will always be with you, and make you the instrument of my love, my tenderness; I will continue to love my creature, which has become your wife. I will love her through your gestures of love, attention, commitment, forgiveness, devotion. In a word: I will make you able to love her as I love her, because I will give you a new force of love which is my own love.

If you love her in this way, your marriage will become like a fortress that the storms of life will never be able to break down. A love built on my Path is like a house built on the rock: no affair will destroy it.

Today fews believe in the true love, the one that lasts forever, and few offer their whole life to their beloved. Now people search more emotions than commitment. But emotions born and die soon, leaving only emptiness and longing.

If you will know how to love her for My sake, with a loyalty that never fails, you will become like the city on the mountain. You will be a hope for all the others , because everyone will see that love is a thing possible. “




Recently, i found many posts concerning about marriage , but somehow i wanted to share this one from this link. A lot of my friends worried about their future and of course this one is one of their concern. Of course I want to get married too, but I think i will take my time slowly :). Now i know, there are so many things i didn't know and much more things to learn. At first, I think i could only be happy with certain person and God showed me that there is a merit in "what you want doesn't always be what you needed" prases. At first, I think that it is okay to compromise with your significant others' way of seeing religion, it is okay to put your religion in the second place. Now i know, what really matter is that two people in marriage have to get the same way and priciple concerning their religion.

It is true that most of women would like to be with someone who can make them feel comfort, personalities often be the primary prequisite before deciding someone to be your partner. But as time goes by, I think that it is a must to put their act and principle about religion in the first place. Put Allah first, and you will never be last. His act towards Allah will reflect his acts towards you :'). and for my last word, now I believe that Allah actually will never make us wait, except it is verily best for us to wait. 



Minggu, 15 Maret 2015

Petite Moi

Elle vit dans l’ombre d’une jeune fille solitaire
Voix si calme  que vous n’entendez pas un mot
Toujours a parler, mais elle ne peut pas être entendu
Vous pouvez la voir là-bas si vous attrapez son regard,
Je sais qu’elle est brave, mais elle est coincé à l’intérueur
Peur de la sorte ? mais elle sait pas pourquoi

Tiens je savais pas à l’époque ce que je sais maintenant
J’aimerais pouvoir en quelque sorte
Remontez le temps et écouter mes propres conseils
Je lui dirais de prendre la parole
Dites-lui de crier
Parlez un peu plus fort
Soyez un peu plus fier
Dites0lui qu’elle est belle, magnifique
Tout ce qu’elle ne voit pas

Vous devez prendre la parole
Vous devez crier
Et ils savent ici et maintenant
Vous pouvez être beau merveilleux
Tout ce que vous voulais être
Petite moi

Ouais, tu as beaucoup de temps pour agir a ton age, 
impossible d’écrire un livre à partir d’une seule page,
L’Aiguilles de l’horloge tournent dans un sens seulement
Courez trop vite et vous risquez tout
Vous ne pouvez pas avoir peur de faire une chute
Elle se sentait si grande, mais elle était si petite
Tiens je savais pas à l’époque ce que je sais maintenant
J’aimerais pouvoir en quelque sorte
Remontez le temps et écouter mes propres conseils
Petite moi ...






Sabtu, 14 Maret 2015

Out of My League but still..

Hi there !

akhirnya punya kesempatan buat nulis di blog ini lagi. Terakhir nulis januari berarti bisa dibilang Februari skip banget buat nulis nulis. kenapa kenapa ? bukannya mau excuse, jadi selama dua bulan terakhir ini saya lagi konsen ngurus TA dan apply buat master di salah satu universitas di Eropa. iya nekat ga sih ? mending ngurusin TA aja dulu dan apply apply nya nanti setelah lulus..


Memang udah lama banget saya pengen apply universitas ini. Toh deadlinenya setiap maret tiap tahun dan berarti saya bisa nunggu setelah lulus buat bisa apply ini dengan ijazah. Tapi ternyata kemarin waktu email sama representative univ nya dia bilang bisa aja pakai transkrip. Kemudian insting saya mengatakan saya harus mengejar ini (gatau saya emang orangnya lebih percaya intuisi kadang haha). Deadline international graduate admussion intake-nya 20 Maret 2015, ketika saya memutuskan untuk mengejar apply ini awal Januari kemarin. Waktu itu saya belum punya IELTS, jadi paling lambat banget akhir februari saya udah harus IELTS (kan hasil IELTS baru keluar dua minggu setelah tes) jadilah saya menghitung-hitung uang tabungan saya. Kira-kira cukup ga buat bayar tes IELTS dan uang pendaftaran buat apply universitas ini.

Yah bisalah..tapi ya gantinya alokasi dana buat ganti gadget jadi harus dialihin buat ini semua :""). bisa dibilang jumlahnya ga sedikit jadi saya harus berjuang mati matian buat apply ini, gapake excuse. awal masuk kuliah saya daftar IELTS di IDP Bandung , menurut kurs dollar yang ada saya harus bayar 2.460.000 rupiah (sekitar 195 USD) dan saya ambil tanggal 28 Februari. Iya, itu tanggal paling mepet dengan tanggal aplikasi saya tapi saya pikir cukup lah buat persiapan, saya juga ga berani ambil tanggal lebih cepet dari itu karena target saya Februari beres Bab II TA saya juga beres. setelah merogoh kocek cukup dalam dan belajar belajar sendiri, saya jadi banyak cerita sama temen saya, Nabila yang ambil IELTS tanggal 7 Februari. Nabila ambil les persiapan IELTS intensif di IDP sekiar 10 hari sebelum tanggal tes. Jujuuur itu buat saya keder banget , awalnya saya mau belajar sendiri sambil menghemat tabungan, tapi makin dipikir saya makin gak pede kalo ga ambil persiapan apa-apa.

Tapi saya gamau ambil persiapan yang bareng-bareng, akhirnya saya cari guru les privat buat intensif IELTS, dari temen saya sesama asisten saya dapetin nomor seorang tutor IELTS. Hhh.. harganya cukup mahal, sekitar 250rb sekali pertemuan, setiap harinya tiga jam ditambah tempat lesnya yang bener bener jauh dari kosan saya, di Jalan Sudirman deket pasir kaliki. Tapi, dia bener-bener fokus ke kita mantau perkembangan kita dari hari ke hari. Mulai dari listening , writing, sama speaking. Kalau reading dan listening kita setiap hari dikasi homework yang harus dikumpulin dan dipantau lagi perkembangannya.

Saya les sama Cici Memey (iya dipanggilnya sama murid yang lain cici terus saya jadi ikut ikutan deh) selama tiga minggu, sekitar enam kali pertemuan. Sebenernya bisa lebih, tapi saya juga harus membagi pikiran saya dengan TA saya dan saya juga gamau ninggalin bimbingan begitu saja, apalagi saya baru bisa survey kalau bab II saya sudah fix oleh dosen pembimbing saya.  Wkwk, kalau diinget inget lagi perjuangan les sambil nyusun TA sambil kuliah (sambil bantuin event akbar himpunan saya) jungkir balik juga. Saya masih inget pulang les hari kamis, saya lagi puasa.. tapi di situ daerah pecinan .. dan semua warung yang saya datangi saya tanya gak halal , pakai minya babi lah. Sedih banget haha. Mana ujan ujan gabisa pulang dan ga ada masjid di sekitar situ (saya pernah numpang solat ashar di pesantren tapi jalan rada jauh dari tempat les). Akhirnya setelah beli es krim saya buru buru pulang nembus ujan gerimis buat balik ke kosan.



Seminggu sebelum IELTS. Saya stop belajar kuliah dan nyusun skripsi, fokus ke IELTS (walaupun saya masih inget banget seninnya bimbingan dan banyak revisi bab II). Saya kedapetan jumat speakingnya dan sisanya (listening,writing, reading) hari sabtu. Alhasil, saya hari selasa rabu fokus belajar speaking. Saya juga bener -bener berusaha memperbaikin listening saya, diantara yang lain saya rasa listening saya paling jelek, bahkan suatu saat waktu les listening saya pernah dapet 4,5 ! udah capek banget kayaknya saya juga lupa. kayaknya efek habis bimbingan haha..saya takut banget dan sempat down.. gimana kalau listening saya ga naik naik nih.. sekitaran 5,5 dan 6,0 teruus waktu les dan biasanya kan kalau ujian itu ada atmosfer yang bikin stress sendiri. Biasanya bagus di kelas tapi jatoh waktu ujian kan banyak.. apalagi ini tes IELTS pertama saya. akhirnya saya fokusin belajar ke listening dan reading, speaking tiap malem bareng sama writing. Tapi kalau di les-lesan saya fokusin di listening,writing , dan speaking. Ohiya waktu waktu ini juga saya pakai buat permohonan surat rekomendasi ke sana-sini. Total saya meminta tolong empat orang untuk surat rekomendasi saya dua dosen, satu pembimbing kerja praktek, dan satu lagi bos saya di tempat kerja kantor berita ITB.

Hari ujian IELTS yang memang selalu hari Sabtu, malam sebelumnya saya nervous bangeet. Guru les saya bilang "udah jalan jalan di PVJ aja jangan belajar", tapi saya gabisa kaya gitu orangnya hiks, saya tetep belajar walaupun dengan porsi ga sebanyak hari-hari sebelumnya. Ujian hari itu, listeningnya susaah terutama section 4 sama section 3. Cukup bikin down karena listening itu ditaruh di awal banget .. reading dan writing saya kerjain dan saya ngerasa udah put my best effort. Sekitar jam 1 selesai test, saya makan dan pulaaang. Bahagia rasanya ..salah satu resolusi saya tercapai (paling ga IELTS udah meskipun applynya belum dan belum keterima)

Minggunya saya nyicil lagi TA saya, sampai malam senin saya begadang sampai jam 2. Itu sih ogeb-nya. Besok seninnya habis kuliah saya makan sama temen-temen saya di gelap nyawang depan ITB. kwkwk emang itu tempat udah terkenal ga bersihnya.. beranjak siang saya ngerasa pusiiiing banget dan mual terus. Saya buru-buru pulang habis dari perpus. Bener aja, saya makan ga bersih di saat kondisi saya lagi down banget. Dari senin siang sampai selasa besok paginya saya demam dan mual, Malamnya saya selalu kebangun setiap jam karena pusing dan panas. setelah tes darah saya positif thypus. Jackpot banget ga sih ?!? saya bedrest selama seminggu dan gabisa nyentuh laptop buat apa -apa.... saya gabisa ngurusin recommendation letter dan nyicil TA saya di saat temen-temen udah ada yang pada surveey. Sedih .. tapi saya harus cepet cepet sehat. Saya sebenernya gasuka bubur, tapi saya makan bubur selama 4 hari dan bertekad gamau nyisain. Apalagi... senin lusa itu udah UTS ! mana mata kuliah ini diampu sama dosen pembimbing sendiri lagi... gamau nyusul nyusul, gamau nyusahin orang. Gabisa nggak ini bedrest harus bener-bener bedrest, padahal dalam hati rasanya remuk berasa useless dan nyesel gabisa jaga kesehatan,

Akhirnya saya ujian hari senin ! saya juga udah ngerasa baikan. semingguan itu saya menebus dosa...urus surat sana sini, urus surat ke penerjemah tersumpah juga, benerin revisi ... dan sampailah pada Jumat 13 Maret ! pengumuman hasil IELTS ! dengan harap harap cemas saya buka isinya dan Alhamdulillah overall band score 7 :"""D  dan ga ada nilai di bawah 6 :"""D . Pagi itu hari jumat juga salah satu reference saya, bos saya di USDI udah kirim recommendation letter ke pihak universitas ..Sebenernya saya tinggal scan hasil IELTS , upload cv dan menunggu reference letter lain di kirim, survey bank mana yang biaya international transfernya paling murah, dan bayar 95 euro lewat transfer bank. Hanya itu sebenernya, tapi rasanya ....




Tapi entah mengapa beberapa hari ini saya jadi cemas dan bener bener takut ini semua percuma.
Saya tahu deep down kalau universitas yang saya tuju ini out of my league
Entah kenapa saya merasa takut gagal
Iya, payah yah ? saya ngerasa kayaknya apa yang saya kerjain bertahun-tahun mulai dari les prancis sampai ambil DELF bahkan ga cukup untuk menaklukkan kerasnya persaingan memperebutkan kursi di universitas tersebut..
mungkin ini titik yang bisa dibilang titik pasrah :"
Apapun itu saya tetep percaya yang sudah ditentukan oleh yang di atas tentu lebih sempurna dari apa yang kita bayangkan .
Apapun hasilnya nanti, semoga diberikan yang terbaik :")


Kamis, 08 Januari 2015

God Help the Outcasts

je ne sais pas Seigneur si ces mots
monteront jusqu’au Ciel
si Tu entendras tout là-haut
ce très humble appel
moi, l’exclue, l’impure, la gitane
en Toi j’espère toujours
car dans le coeur de Notre-dame
les bannis ont droit d’amour

protège, mon Dieu, les malheureux
eclaire la misère des coeurs solitaires
nulle âme à part moi ne les entendra
si Tu restes sourd aux mendiants d’amour

je veux de l’or , je veux la gloire
je veux qu’on honore un jour ma mémoire
fais qu l’on maime , Dieu Immortel
nous implorons Ta Grâce o Roi Eternel
je ne désire rien ni gloire ni bien
mais le coeur qui a faim doit mendier son pain
Entends pour mes frères cette humble prière 
car les miséreux sont enfants de Dieu

tous les miséreux sont enfants de Dieu

je crois que chaque religion enseigné en croyant à pratiquer sa compassion pour les autres, à tout le monde dans le même ou différent croyance avec nous .




Senin, 29 Desember 2014

Comme un Homme

une chanson dans le film du Disney, Mulan 
attaquons l’exercice pour défaire les huns
m’ont ils donné leurs fils ? je n’en vois pas un
vous êtes plus fragile que des filletes
jusqu’au bout et coup par coup
je saurai faire des vrais hommes de vous

comme la flêche qui vibre et frappe en plein coeur
en trouvant l’équilibre vous serez vainqueurs
vous n’êtes qu’une bande de femmelettes
mais en vers et contre tout
je saurai faire de vrais hommes de vous

j’aurais dû me mettre au régime
salues tous mes amis pour moi
je n’aurais pas dû sécher les cours de gym
ce gars-là leur flanque les foies
et s’il voyait la fille en moi ?
je suis tout en âge mais nager je ne sais pas

(comme un homme) sois plus violent que le cour du torrent
(comme un homme) sois plus puissant que les ouragans
(comme un homme) sois plus ardent que le feu des volcans
secret comme les nuits de lune de l’orient

les jours passent et les huns ne sont plus très loin
suivez bien mon chemin vous vivrez demain

vous ne serez jamais  vaillant et fort comme des hommes rentrez chez vous
je ne peux faire des vrais hommes de vous
(comme un homme) sois plus violent que le cour du torrent
(comme un homme) sois plus puissant que les ouragans
(comme un homme) sois plus ardent que le feu des volcans
secret comme les nuits de lune de l’orient

eh bien, je devrais remercies la personne qui a fait cette paroles. Parce que “Comme un homme” était mon chanson qui je jouais toujours en travaillant pour preparer mon DELF. une chanson que chaque fois que vous entendez cela vous fera réfléchir à deux fois pour abandonner à votre rêve. Il y avait le temps que je me sens très dur, je me sens tellement déprimé ou tel-a-déchets de l'espace, sachant que j’avais trop beaucoup du choses que je devrais faire, et des responsibilités, et cetera -___- dans cette semestre. Et après ecouter cette “Comme un homme”,  et rappeler des moments passés me fait réalisé combien était bénie, ayant une chance d'obtenir ce fardeau.

À la fin de cette année, je suis étonné de moi parce que je ne suis pas pleurer quand mêmes problèmes (avec une autre personne) qui me est arrivé. Dans l’année debut, je pleurais comme – euh comment je peux vous dire- toute mon cerveau pleurait
 
Mais maintenant, la même chose m’a frappé d’une manière differente, mais je peux la pris les derniers problèmes calmement..pas personnellement. Thehe. je suis étonné de moi. Peut-être- finalement, je sais comme on me disait par “âges comme le vin”. J’espère que la prochaine année, 2015 , ca sera étre meilleur que cette année, il y aura des choses plus étonnantes et précieuse leçon que nous (oui, vous le lecteur qui a lu volontiers ce poste jusqu'à le dernier mot de ce post de merde et moi) pourrions apprendre. Bienvenue 2015! :”)

Histoire éternelle

Histoire éternelle
Qu’on ne croit jamais
De deux inconnus  qu’un geste imprévu rapproche en secret
Et soudain se pose sur leur coeur en fete un papillon rose
Un rien pas grand chose
Une fleur offerte

Rien ne se ressemble , rien n’est plus pareil
Mais comment savoir la peur envolée que l’on s’est trompé

Chanson éternelle
Au refrain fané
C’est vrai c’est étrange de voir comme un change
Sans meme y penser
Tot comme les étoiles
S’éteignent en cachette

Histoire éternelle
Touche de son aile
La belle et la bete

Histoire éternelle
Touche de son aile
La belle et la bete

Parmi tous les films et chansons du disney j’avais déjà vu. Cette chanson est - (et sera toujours) ma chanson préférée de tous le temps. C’est vrai comme il disait dans le film, elle est “la plus belle histoire d’amour jamais dit “. A cote de sa gentilesse à chacun de petit créature du monde, Belle avait quelque-chose qui me fait vraiment l’adore : “On a pensé qui j’étais très audacieux. Je sais comment il se sent d'être différent, et je sais la solitude qu’elle pourrait être,"

Kamis, 25 Desember 2014

Au Bout du Rêve

Au Bout du Rêve
Interprétée par Huguette Boulangeot (1959) 
C’était vous avec qui j’allais au bout du rêve
C’était vous que j’apercevais dans tous mes songes sans trêve
Je sais bien pourtant que l’illusion parfois nous ment
Mais auprès de vous, je sais malgré tout
Qu’un jour bienheureux, nous irons tous deux
au bout du rêve

Mais auprès de vous, je sais malgré tout
Qu’un jour bienheureux, enfin nous irons au bout du rêve

C’était vous avec qui j’allais au bout du rêve
C’était vous que j’apercevais dans tous mes songes sans trêve
Je sais bien pourtant que l’illusion parfois nous ment
Mais je sais aussi qu’on préfère ceci
Que vous m’aimerez quand vous cesserez de tant rêver


J’aime bien cette scene de la belle au bois dormant. Toutes les combinaisons de ces mots français font vraiment cette chanson se sentent plus comme une chanson d’amour. Et il y a l’autre doublage Interprétée par Danielle Licari et Olivier Constantin. Celui le petit mots dans le doublage “Mon amour, un aussi doux rêve est un présage d’amour” . 
Hahaha Disney, vous êtes et vous serez toujours mon film préféré de regarder à tout âge.

Mon Attestation de réussite de Delf B1 (1) !

Cette matin au 15 Decembre 2014, j’étais très crevée parce que j’avais fait mon papier du recherche finale de mon course la nuit dernièr, la metodhologie du recherce. Mais j’étais tres passionant de recevoir quelque chose au cette jour. Au 22 Novembre 2014, j’ai pri le DELF du B1, et cette jour j’avais attendu l’annonce de réussite de DELF depuis 7 heures du matin. J’avais l’examen du course du “Urban Design” à demain alors je voulais d’étudier en avant et quand j’ai vu mon sticky notes, et soudain je me suis rappelle du date de l’annoce. Et puis je cherchais et chercais sur internet ..je ne trouvais rien .

Et soudain je trouve cette lien sur twitter, il restait dans internet jusqu’à 4 minutes. Il directait au le lien de l’annonce de reussite pour le DELF at DALF la dernier Novembre ! ensuite il me a amenait dans la page de l’annonce. Et pour la premère fois de ma vie, je regrette que ma vitesse internet allait tellement vite. Je n’avais pas de courage de voir cette annonce. J’attendais en quelque minutes et envoyais des messages a mes meilleur amies. Après avoir pris mon souffle, je recherchais pour mon nom.. à partir de la liste des juniors A1, des juniors A2, et puis des juniors B2 .... et mon nom , je ne le trouvais pas ? il y a juste cet Gomez Gonzales dans le liste?
Et soudain j’ai realisé que c’était seulement la liste des juniors..

Ensuit je continuais de rechercher mon nom, j’oublie mon numéro d’examen... hh... j’ai trouvé les noms a partir de consonne H. H.. H.. Hilda Nurmoharoni .. et j’ai trouvé mon nom au dessous cet nom , Hafshah Najma Ashrawi ! Uhakhakhak !
Alhamdulillah, grâce à Dieu, je réussirais le DELF B1 , jusqu’à ce moment au moins de ma curiosité est satisfaite. Mais toujours, je voudrais savoir mon note finale. Je n’ai pas oublié aussi de féliciter mes amies , Zefa et Kak Maria pour leur réussite de passer le DELF B1 pour Zefa et le DELF B2 pour Kak Maria. Au 10 heures du matin, j’allais au IFI et quand j’ai arrive la bas, j’ai rencontre Kak Maria. Nous allions directement du service pédagogique, mmm exactement avec des amies du Kak Maria thehe.

Aller au IFI au cette heures était tres tot. Madam Aci était sur le point de joindre l’annonce sur la paroi de l’information. Et elle me disait que des attestations de réussites serait envoyée au Mercredi prochaine. Hm, ca fait bizzare d’apres moi, et puis elle me disait le nouveau classe du niveau B2 serait commence au Janvier prochaine. Pour être honnête, c’était vraiment tentant. Mais pour la prochaine demi, je devrais porte mes études sur mon tache finale. Et il y avait une mauvaise nouvelle, le prix pour tous les cours s’élèvent ! (oui, actuallement pour chaque annee il augmentera). Hhh qu’elle décision difficile. Et je vois Monsieur Fauzi venait de recevoir un paquet. Il fassait des attestations. Et bien sûr. Après Kak Maria, j’ai signé la forme et voilà ! j’ai reçu mon attestation de réussite !

Je suis tout eblouie de mes notes !!

Wkwk J’étais un peu trompe avec mes notes de comprehension oral. Avant tout, j’ai passé cet examen au une note suffisant. Ca me fait bizzare était mon note de comprehension de l’oral qui était la seconde meilleure dans mon DELF niveau A2, et maintenant il etait le mauvaise khehehe..
Au l’examen du DELF B1, il teste votre capacité d’utilisateur indépendant pour les quatre compétences (et je pense qu’il ressemble de l’examen formelle du anglais, e.g : reading, writing, listening, and speaking), et pour le DELF/ DALF , il y a toujours lire, écrire, écouter, parler. L’examen comporte une épreuve pour chacune de ces quatre compétences : compréhension de l’oral (écouter, listening); compréhension des écrits (lire, reading); production écrite (écrire, writing); et production orale (parler, speaking)

Si j’ai énumère à partir des notes plus haut au plus bas à production écrite, compréhension des écrits, production orale, et compréhension de l’oral ! hakahak, alors, j’etais tres difficile des ecouter les français se parlent? Huhuh.. je suis desolée, les audios étaient tres difficile pour écouter, et je ne peux pas imaginer de prendre l’examen du DELF B2 en ce moment.
Wkwkw mais avant tout je me sens si fier et béni de passer l’examen du DELF B1. J’espere de continuer au niveau B2. Bien que je ne peux pas la prendre dans l’instant proche. Et aussi, je sais quelle methode d’aprrendre francais que le meilleur pour moi. Hhaha peut-être je peux le partager dans l’autre poste

J’espere que j’aurai une chance d’avoir l’examen du DELF B2 l’anne ou deux annees prochaine :'')