Jumat, 31 Mei 2013

Myra P Gunawan : Pariwisata 'Di' dan 'Untuk' Indonesia


Rabu 29 Mei tepatnya, pagi pagi ada sebuah pesan singkat yang bertandang di inbox note saya. Baru kemarin saya mengirim pesan kepada beliau agar berkenan diwawancarai oleh saya dan beliau langsung menjawab dengan singkat dan cepat. “Gedung pwk lt 4 ya habis jam satu, saya biasanya ada di ruangan depan pintu pak djoko atau di ruang rapat , dipastikan saja” balas beliau Selasa siang sewaktu saya masih duduk terpukau tayangan kumpulan Film karya Garin Nugraha di Aula Timur ITB. Mendapat balasan seperti itu, sebenarnya saya sendiri senang senang nervous sendiri. Sudah sebulan lamanya saya berusaha mengontak beliau lewat email dan baru hari itu saya memutuskan untuk berani mengirimkan pesan singkat (yang nomornya saya dapatkan dari kadiv tercinta saya, Kak Sarah Najmilah) , dan ternyata jawabannya tidak lebih dari lima menit ! sedangkan setelah ujicoba email yang entah email tujuan sudah tidak valid atau memang tidak mendapat balasan, saya memang tidak mencoba lanjut karena sebulan sebelumnya memang perhatian saya serasa dialihkan oleh the-two-letter-thing-which-is-so-sacred di himpunan saya. Kembali ke inti cerita, narasumber yang saya maksud kali ini adalah Ibu Myra P Gunawan, dosen di program studi saya yang pada tahun 2009 kemarin memasuki masa purnabakti.


Kenapa beliau ? Saya sudah lama mendengar nama beliau sebenarnya. Sewaktu peluncuran buku 50 Tahun Perjalanan Perencanaan Wilayah dan Kota di Indonesia, sewaktu selintas membaca nama-nama dosen pengampu mata kuliah, dan yang terakhir, yang membuat saya tertarik adalah pada Dies Natalis ITB ke 54 nama beliau kembali disebutkan sebagai penerima Ganesha Cendekia Widya Utama atas jasanya sebagai perintis studi pariwisata di ITB ini. Walau saya mahasiswi planologi dan cukup mengenal dosen-dosen planologi paling tidak yang pernah mengajar saya, tentu cukup susah untuk menemui Ibu Myra karena memang beliau tidak aktif mengajar lagi. Tapi seakan ini keinginan saya sendiri, suatu saat saya ingin membuat berita profil beliau. Profil seorang perintis studi pariwisata ITB.

Singkat cerita hari Rabu siang itu. Setelah memperkenalkan diri saya sendiri, saya menjelaskan maksud untuk mewawancarai beliau, untuk membuat berita profil civitas akademika ITB.  “Wah saya ga mau kalau begitu” JDEER bumi gondjang gandjing. “Maksud saya, saya ingin artikelnya fokus ke pembahasan pariwisata dan perkembangannya. Kalau tentang profil saya, adik tahu sendiri kan saya ini udah pensiun nggak akan ada yang baca berita adik kalau membahas tentang profil saya ini. Mending membahas pariwisata saat ini dan bagaimana perkembangannya” terang beliau. Sedikit bernegosiasi, tapi akhirnya saya nyerah juga. Saya menyanggupi permintaan beliau tentang fokus pembahasan awal mula lahirnya studi pariwisata di ITB ini.

Secara garis besar, bagaimana proses awal mula berdirinya studi pariwisata ini dan dikaitkan dengan latar belakang pendidikan Ibu ?

Pertama kalinya tercetus adanya pariwisata itu sebenarnya malah dari mahasiswa. Sekitar tahun 70-an, ada salah satu mahasiswa bimbingan saya yang datang ke saya dan mengajukan tema pariwisata, sesuatu yang sangat jarang saat itu. Dia itu anaknya pemilik Hotel Panghegar dulu dan dia sudah melakukan riset yang cukup mendalam. Sayang sebenarnya saya sendiri juga tidak cukup mengerti tentang pariwisata. Saat itu, mendengar kata ‘pariwisata’ saja bahkan rasanya tidak pernah tapi melihat semangat anak itu, saya memutuskan untuk membantu anak tersebut. Setelah itu, ternyata banyak juga mahasiswa lain setelah dia yang mengajukan tema pariwisata ke dosen-dosen bimbingan lainnya. Setelah itu, Planologi ITB dimintai tolong oleh Direktorat Jenderal Dinas Perhubungan saat itu untuk membuat masterplan atau rencana induk Perencanaan Pariwisata Nasional. Kita belajar ‘otodidak’ dari dokumen-dokumen yang ada, saat itu buku-buku mengenai pariwisata jarang sekali ada.

Sesudah itu,bersama mitra kerja tim bantuan Jepang, kami tim planologi ITB membuat perencanaan wilayah dalam konteks Pariwisata untuk wilayah Jawa Barat bagian Barat. tim planologi ITB kembali ditugasi oleh Departemen Parpostel (saya search kepanjangannya susah, seingat saya Pariwisata Pos dan Telkomunikasi) Pemerintah Daerah NTT untuk membuat analisis perencanaan pariwisata. Sepulang dari NTT, Rektor ITB saat itu, Pak Wiranto Arismunandar langsung memberi mandat kepada saya, dik “ITB harus punya Pusat Penelitian Pariwisata” . Awal tahun 1993 saya mengajukan proposal untuk pendirian pusat penelitian pariwisata. Dalam dua hari proposal tersebut sudah ditandatangani dan berdirilah Pusat Penelitian Pariwisata, kalau sekarang karena restrukturisasi namanya jadi Pusat Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Tapi dari dulu singkatannya ya tetap sama P2Par. Sesudah itu, ada juga permintaan untuk membuka S2 pariwisata, tapi saat itu critical mass nya tidak terpenuhi dik sayangnya.

Tahun 2001 sampai dengan 2004 saya bekerja sebagai Deputi Bidang Sumber Daya dan Promosi Pariwisata di Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Saya sendiri merasa lebih banyak belajar saya di Depparbud, dik. Saat itu Indonesia masih krisis keuangan nasional pasca 1998 belum lagi tragedi bom bali yang sangat mempengaruhi pariwisata Indonesia. Keuangan tidak stabil tapi kami juga bertanggungjawab untuk memulihkan pariwisata Indonesia.

Apa yang membuat Ibu termotivasi untuk terus menggeluti bidang pariwisata ini ?

Saya yakin bahwa pariwisata itu sektor yang sangat potensial untuk Indonesia di masa depan. Hanya saja memang pariwisata itu harus direncanakan dan dijalankan dengan baik. Kalau tiga kebutuhan dasar manusia sudah terpenuhi – sandang, pangan, dan papan – yang manusia cari selanjutnya itu pasti rekreasi. Kebutuhan rekreasi ini difasilitasi dengan adanya sektor pariwisata. Motivasi lainnya, saya melihat mahasiswa.

Kakak kelas kamu yang belum lama lulus, ada yang pernah minta tolong bantuan saya untuk mematangkan konsep salah satu program mereka. Program Pemuda Pariwisata namanya, konsepnya itu berangkat dari kebutuhan Indonesia akan pemimpin nasional. Hipotesanya, pemimpin nasional itu kan harus mengenal nusantaranya sendiri. Generasi muda sekarang kan harapan bangsa, harapannya setelah seseorang mengerti bagaimana kondisi nusantaranya, bagaimana realitanya dia tidak akan gamang lagi, bingung apa yang harus dilakukan ketika tiba saatnya dia memimpin. Rekreasi itu bisa tidak hanya bermanfaat untuk individu sendiri, tapi juga untuk bangsanya.

Apakah arti penghargaan Ganesha Cendekia Widya Utama bagi Ibu ?Bagimana perasaan Ibu sebagai penerima penghargaan tersebut ?Apakah penghargaan yang paling berkesan bagi Ibu ?

Tentu saja saya berterimakasih kepada ITB, ITB masih ingat saya. Kalau ditanya penghargaan yang paling berkesan, saya bisa jawab penghargaan Ganesha apalaah itu yang diberikan saat Dies Natalis kemarin. Menerima penghargaan itu sebenarnya membuat perasaan saya campur aduk. Di sisi lain, saya sedih karena saya tidak bisa turun tangan langsung membesarkan studi magister kepariwisataan ini, karena memang kebijakan ITB saat itu saya sudah memasuki masa purnabakti. Bagaimana ya.. (beliau terdiam beberapa lama sebelum akhirnya menjawab)

Hampir sekitar 40 tahun saya menjadi dosen. Saya menggagas, dan bisa dibilang membidani lahirnya sebuah bayi yaitu studi pariwisata ini. Sayangnya saya tidak bisa ikut membesarkannya, dan dosen-dosen lain lah yang harus mengurus si bayi kecil ini. (beliau mengibaratkan studi pariwisata ini seperti bayi, sebenarnya saya merasa terenyuh mendengar beliau. Seakan pariwisata sendiri sudah seperti anak tanpa ikatan darah untuk beliau hhe). Saya sama sekali tidak menyalahkan kebijakan ITB yah dik, tapi saya akan dengan sangat senang hati mengabdikan ilmu saya jika ITB meminta saya untuk mengajar, tidak dibayar sekalipun. Penghargaan Ganesha tersebut sejujurnya akan lebih berarti untuk saya sendiri jika saya masih memiliki kesempatan untuk mengajar.

##Berbahagialah kakak-kakak yang pernah mengambil mata kuliah yang diampu beliau. Dari nada beliau berbicara, she is indirectly taught me that passion is the key to learning, and also for sharing. Apalagi “penghargaan akan lebih berarti untuk saya jika saya masih memiliki kesempatan untuk mengajar, tidak dibayar sekalipun”. Tidak saya tidak menyinggung hal ihwal materialistis tapi sungguh saya baru pertama kali bertemu seseorang se –passionate beliau. Bahkan di saat yang bisa saja beliau gunakan untuk bersantai, beliau masih merasa ingin berbagi ilmu beliau kepada mahasiswa-mahasiswanya. Setelah Ibu Betty Alisjahbana, sepertinya list alumni SAPPK yang menginspirasi saya untuk menekuni bidang planologi bertambah satu.  


(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for comment !